Pengelolaan Limbah & Sanitasi Saat COVID 19

By | 11 November 2020
pengelolaan limbah 1 1 1024x731 - Pengelolaan Limbah & Sanitasi Saat COVID 19

Pengelolaan limbah yang seperti apa yang harus kamu lakukaan saat COVID-19? Saat pandemi, tepatnya pada 19 Maret 2020, WHO dan UNICEF membuat pedoman sementara. Tak lain untuk melengkapi dokumen IPC, atau infection prevention and control.

Nah, dengan adanya dokumen ini nih, maka masyarakat membutuhkan panduan untuk mencegah dan mengendalikan infeksi sesuai pedoman WHO. Panduan ini sangat bermanfaat untuk air, sanitasi, serta pengelolaan limbah medis sesuai wabah virus, termasuk COVID-19.

Bagi penyedia air serta sanitasi, praktisi, serta penyedia layanan kesehatan, informasi ini sangat penting. Maka, sebaiknya harus baca nih resiko serta penanganan air, sanitasi serta higieni (WASH).

Dokumen ini merupakan terjemahan Water, Sanitation, Hygiene, and Waste Management for the Covid-19. WASH sendiri merupakan singkatan dari Water, Sanitation, and Hygiene. Artinya, air, sanitasi, serta kebersihan

Kebersihan WASH

Berikut adalah prosedur kebersihan yang berhubungan WASH saat COVID-19:

1. Cuci tangan sesuai rekomendasi untuk pencegahan penularan COVID-19. Para penggiat juga harus memastikan apakah praktek dalam cuci tangan dapat terlaksana dengan baik. Misalnya, dengan meningkatkan fasilitas, serta melaksanakan teknik perubahan yang sudah terbukti efektif.

2. Pedoman WHO untuk sanitasi dan pengelolaan air minum sangat penting dalam penanganan KLB Covid-19. Menggunakan disinfektan juga saran dari WHO untuk mematikan virus COVID.

3. Dengan menerapkan pengelolaan sanitasi, pengelolaan air dan perilaku hidup sehat serta bersih, masyarakat mampu memperbaiki kualitas hidup. Juga, bermanfaat untuk mencegah adanya penyakit menular lainnya.

Walaupun sampai saat ini, belum ada hasil studi yang menunjukkan bahwa COVID dapat bertahan dalam air limbah atau air minum. Tapi, morfologi atau bentuk serta struktur kimia COVID  tidak jauh berbeda dengan tipe virus corona lainnya.

Jadi, data tentang ketahanan virus pada lingkungan serta penanganan untuk inaktivasi yang efektif tentu sudah ada.

Dokumen ini juga ada sesuai data dasar dan merupakan pedoman WHO. Yaitu, berhubungan dengan perlindungan air minum serta air limbah virus. Jika ada informasi terkini, maka dokumen akan mengalami pembaharuan.

Kontak dan pernapasan merupakan dua jalur utama penularan COVID 19. Percikan bersin, atau batuk dari penderita COVID dapat menular. Bisa jadi, percikan tersebut jatuh pada permukaan benda dan virus tersebut masih bertahan. Itulah mengapa, sumber penularan dapat melalui lingkungan sekitar penderita COVID.

COVID & Pengelolaan Limbah Tinja

Sampai adanya dokumen tersebut, dan berdasarkan hasil kajian, resiko infeksi COVID  19 melalui limbah tinja ternyata masih rendah. Beberapa studi berpendapat virus ini bisa menyebabkan infeksi usus, dan sangat bisa muncul pada tinja.

2-10% kasus COVID yang sudah terkonfirmasi juga membuat penderita mengalami diare. Juga, ada dua studi yang menunjukkan RNA virus pada tinja pasien penderita.

Sampai saat ini, cuman ada satu studi dengan kultur virus yang muncul pada spesimen feses tunggal. Tapi, belum ada laporan tentang penularan virus dari jalur pencernaan.

Walaupun demikian, jangan menganggap remeh pengelolaan limbah tinja, karena tentu jika kurang tepat akan mencemari lingkungan.

COVID & Sumber Air Bersih

Sangat mungkin jika virus ini berada pada air minum. Tapi, belum ada bukti bahwa virus ini dapat bertahan pada sumber air tanah, permukaan air. Atau, juga melalui air minum yang sudah terkontaminasi.

Virus COVID adalah virus yang punya selubung, sehingga kurang stabil terhadap lingkungan serta rentan teroksidasi, dengan klorin misalnya.

Belum ada bukti nyata tentang tingkat ketahanan virus pada air limbah dan air minum. Tapi, virus dapat menjadi tidak aktif lebih cepat jika kamu membandingkan dengan virus tanpa selubung.

Atau pada virus yang menular melalui air. Contoh virus yang menular melalui air adalah norovirus, Hepatitis A, rotavirus, dan adenovirus.

Sebuah studi menemukan virus yang ada pada manusia hanya bisa bertahan dua hari pada air keran yang sudah mengalami deklorinasi. Juga, pada limbah cair yang ada dalam rumah sakit, terutama dengan suhu 20 derajat C.

Studi lain juga menunjukkan virus ini pada manusia dapat menular dari infeksi saluran pencernaan karena virus tersebut. Tikus dengan virus hepatitis dan virus ini juga menunjukkan bahwa virus COVID tidak bisa bertahan lebih dari dua hari pada suhu 23 derajat C.

Virus dapat mati karena panas, dan tingkat pH, serta paparan sinar matahari. Disinfektan, klorin misalnya dapat membuat virus mati.

Berapa lama virus ini dapat bertahan pada permukaan barang-barang? Memang, belum ada informasi lebih detil tentang hal ini.

Tapi, virus ini juga sangat mungkin memiliki karakter sama seperti tipe virus Corona lain. Sebuah tinjauan terbaru menunjukkan ketahanan virus pada permukaan benda.

Virus tersebut dapat bertahan mulai 2 jam sampai 9 hari. Ada banyak faktor yang menentukan waktu bertahan. Contohnya adalah bahan permukaan, kelembapan, jenis virus, dan suhu.

Tinjauan lain juga menunjukkan bahwa cara efektif untuk membasmi virus dalam 1 menit dapat menggunakan disinfektan. Misalnya, menggunakan sodium hypochlorite serta alcohol 70%.

Pengelolaan Limbah Tinja Dan Sanitasi

Sanitasi, penyediaan air minum, sampai kajian terkini belum menunjukkan adanya virus covid 19 yang bisa menular melalui hal tersebut. Jadi, resiko kontaminasi dari sanitasi dan limbah tinja sangat rendah.

Kendati demikian, menurut studi laboratorium, virus Corona ketika berada pada lingkungan dalam pengawasan, ada indikasi jika virus memunculkan infeksi. Hal ini terjadi pada air yang sudah terkontaminasi tinja selama berminggu-minggu.

Ada banyak langkah yang dapat kamu lakukan guna meningkatkan keamanan manusia terhadap sumber air bersih atau sanitasi, seperti misalnya:

  • Melindungi sumber air
  • Mengolah air bersih pada area distribusi, pengumpulan, atau konsumsi
  • Setelah proses pengolahan, penyimpanan air harus aman dan tepat agar tidak terkontaminasi.

Dengan mengolah air secara filtrasi dan penggunaan disinfektan, akan mencegah adanya kontaminasi virus covid 19. Selain cara itu, dapat juga dengan melakukan filtrasi skala tinggi atau merebus air, penyinaran UV, dan penyinaran matahari. Atau, menambahkan klorin pada dosis aman pada air yang jernih.

Virus covid 19 juga belum menunjukkan kasus penularan dari sistem saluran pipa air limbah atau tanpa pengolahan limbah.

Tidak ada bukti menunjukkan bahwa para pekerja sedot WC atau pipa misalnya tertular penyakit saluran pernapasan karena coronavirus tipe lain tahun 2003.

Cara Tepat Pengelolaan Air Limbah Tinja

Namun, pemerintah telah membuat aturan kebijakan kesehatan masyarakat agar terintegrasi. Sehingga, air limbah yang mengalir ke saluran air limbah harus sudah mengalami proses terpusat. Sehingga, semuanya tetap aman pada tahap pengelolaan.

Adanya kolam stabilisasi atau kolam oksidasi pada pengelolaan limbah. Ini adalah salah satu langkah praktis serta sederhana dalam teknologi pengolahan air limbah dan dapat menghilangkan bakteri patogen.

Bakteri ini punya waktu retensi 20 hari, dengan bantuan paparan panas matahari, memicu peningkatan pH.

Pada proses tersebut juga muncul proses biologi, sehingga bakteri patogen dapat rusak. Pada akhir proses pengolahan air limbah, terdapat proses penggunaan disinfektan sehingga benar-benar dapat menghilangkan virus.

Hal lainnya yang harus menjadi perhatian adalah melakukan praktik baik. Tujuannya untuk melindungi kesehatan seluruh petugas pada pengelolaan limbah.

Petugas wajib menggunakan APD yang benar, menggunakan pakaian kerja yang aman.

Serta, wajib menggunakan sepatu boots, sarung tangan, kacamata, dan masker. Menjaga kebersihan tangan serta menghindari menyentuh hidung, mulut, dan mata.

Sistem Perpipaan/ Plumbing Ideal

Sistem saluran pipa atau plumbing juga menjadi perhatian besar. Terutama, untuk kamu yang menggunakan toilet bersama untuk kost, pemilik hotel, atau lainnya. Pastikan bahwa toilet dengan desain flush toilet harus dapat berfungsi dengan baik.

Ketika sedang menyiram toilet, pastikan agar menggunakan tutup toilet. Hal ini penting supaya tidak ada percikan atau droplet serta uap aerosol yang membuat kuman jadi malah menyebar. Toilet juga harus sering kamu bersihkan dengan menggunakan disinfektan dua kali sehari.

Ketika membersihkan, juga harus menggunakan APD sesuai standar kesehatan covid 19. Menurut WHO, sistem saluran pipa yang sesuai standar dan sudah terpelihara baik dapat mengikuti contoh berikut:

  • Memiliki saluran pembuangan kamar mandi dengan desain tertutup
  • Terdapat katup pada bagian selang semprot serta keran. Fungsinya mencegah tinja berbentuk aerosol masuk dalam saluran air bersih serta ventilasi kamar mandi.
  • Mengikuti pengolahan limbah sesuai standar

Masalah dan kesalahan dalam sistem plumbing serta sistem ventilasi menjadi salah satu faktor pemicu penyebaran partikel penyakit.

Hal tersebut terjadi saat SARS coronavirus pada apartemen Hongkong tahun 2003. Desain kamar mandi yang salah juga dapat menjadi salah satu pemicu penyebaran virus.

Pengangkutan Limbah Tinja Saat Covid

Memang, dalam panduan buatan WHO dan UNICEF menyebutkan pedoman pencegahan dan penyebaran Covid 19 pada fasilitas kesehatan. Namun, hal ini penting untuk mengedukasi masyarakat.

Terutama pada para pengusaha yang memberikan layanan bagi banyak masyarakat.

Termasuk hotel, kontrakan, kost dan lainnya karena toilet yang tersedia adalah toilet untuk umum. Semua orang dapat menggunakannya. Sehingga, memperhatikan kebersihan juga sangat penting.

Bahkan untuk tim sedot WC yang bekerja mengangkut tinja, serta para petugas pada bagian pengelolaan limbah wajib menggunakan APD. Tujuannya untuk menghindari paparan langsung. Kebersihan tangan juga harus tetap berjalan secara berkala.

Dalam mengelola lumpur tinja, mengosongkan tangki secara berkala juga sangat penting. Saat jasa sedot WC mengangkut lumpur tinja untuk pemindahan ke instalasi pengolahan, maka harus memperhatikan semuanya secara khusus.

Terutama bagi Sedot WC yang mengambil dari rumah sakit, maka harus mencegah adanya percikan. Setelah selesai , maka petugas dapat melepas APD dan membersihkan tangan sebelum masuk dalam truk tinja. Letakkan APD kotor pada kantong tertutup, lalu cuci dengan benar-benar aman.

Penanganan limbah tinja manusia secara tepat dan aman harus menjadi perhatian besar. Hal tersebut juga erat kaitannya dengan pengelolaan sanitasi.

Pastikan jamban atau toilet berfungsi baik serta aman. Termasuk pada bagian tangki septik, pengangkutan limbah tinja, sampai pengolahan. Kemudian, pembuangan limbah juga harus sudah melalui tahap proses menghilangkan bakteri patogen.

Tidak hanya limbah, pada masing-masing rumah juga harus memperhatikan kebersihan. Sering-sering bersihkan kamar mandi, juga ruang-ruang rumah.

Termasuk pada meja, tempat tidur, juga perabot pada tempat tidur. Gunakan disinfektan untuk kamar mandi minimal satu kali sehari. Gunakan APD saat membersihkan rumah.

Terakhir, selalu jaga kebersihan tangan dengan menggunakan hand sanitizer atau gunakan sabun dengan air mengalir langsung setelah melepas APD.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *